C’est La Vie

Aku menyukai hujan

Sejak gumpalan awan mengelabu

Desau angin yang melambai lembut

Membisikkan kata mesra akan tibanya

Rinai nya membasah dijemari yang menyambut

Merindui aroma petrichor darimu

Menungguimu hingga pelangi hadir

 

Aku selalu menyukai hujan. Suaranya terdengar syahdu. Ia seperti sebuah orkestra dengan melodi yang terdengar romantis ditelinga. Udara yang dingin menusuk seperti membuka luka lama. Setelah ia reda pun aku tetap menyukainya. Membaui aroma yang hadir setelah ia pergi serasa membuatku mendengar alunan puisi penusuk hati.

Pandanganku tak lagi berkonsentrasi pada kumpulan aksara yang ada dihadapanku. Rinai hujan mulai jatuh mencium bumi, aku menyukainya. Pandanganku beralih pada hamparan luas dibalik jendela kamarku. Kuhanturkan telapak tanganku menghadap langit luas yang suram. Rintiknya yang jatuh memberikan sensasi sejuk nan menusuk. Seperti memanggilku untuk berlari keluar rumah dan menari dibawah hujan dengan riang. Tertawa-tawa bahagia entah dimaksudkan untuk apa seraya dijatuhi jutaan tetes air dari langit. Mungkin bahagia karena menangkap air yang tadinya melayang dengan bebas diudara.

Suara sepatu bergesek dengan aspal yang basah terdengar sampai kegendang telingaku. Aku menolehkan kepalaku, mengarahkan pandangan kejalan depan rumah. Si tetangga baru. Sepertinya ia baru saja pulang dari kampus lalu berjalan tergesa menghindari gerimis yang mungkin saja akan menjelma menjadi hujan. Tutup hoodie yang dikenakannya tidak cukup menutupi kepalanya. Ia menggenggam erat ranselnya didepan dada, melindungi seluruh buku penyambung mimpinya. Aku tahu, isi tasnya pasti berisi buku yang berhubungan dengan kedokteran.

Ia berhenti sejenak didepan pagar rumahku yang menjulang. Ia kemudian mengalihkan pandangannya kearah pintu rumahku. Aku menyembunyikan diriku, mengintipnya diam-diam dibalik tirai. Entah apa yang ia pikirkan, ia malah memelankan langkah kakinya padahal hujan semakin deras. Begitu hujan menerjang dengan lebih deras lagi, ia mempercepat alunan tungkai kakinya, bergegas pergi.

==

Dan pelangi menyambutku

Aku menemukannya bersembunyi

Dibalik gelungan kelabu

Sudah kukatakan, aku menyukai hujan. Aku selalu merasa bahwa hujan dekat dengan kata sedih. Tapi sekarang tidak sedang hujan dan aku tetap merasa menyedihkan.

Tak ada yang lebih menyedihkan dari membiarkan perasaan sedih itu sendiri menggauli diri. Aku bahkan melupakan alasan tepat yang membuatku begitu menyedihkan karena terlalu lama berlarut dengan kesedihanku sendiri. Jika aku berpikir keras, mungkin tak akan ada hal yang pantas untuk dianggap menyedihkan didunia ini. Semua hal terlalu tak pantas membuatku sedih. Aku lebih menyedihkan.

Aku bukannya lupa tapi sengaja melupakan. Membiarkan alasanku bersedih lenyap dari lobus otakku. Sayangnya, sedihnya tetap saja merenggut seluruh isi hatiku seperti orang bodoh atau memang benar aku bodoh.

Duduk dibawah pohon maple juga menyenangkan. Cukup menggembirakan bagi hatiku yang bernostalgia dengan kesedihan entah kesedihan tentang apa. Terlalu lama menggauli diri sendiri membuatku melupakan keadaan diluar. Pohon maple dengan daun kecoklatan yang bersiap untuk jatuh ketanah. Meranggas dimusim gugur. Sebelumnya mungkin sang daun memiliki masa bahagia bersama dahan dan ranting, selalu bersama-sama. Siklus alam, tak ada yang bisa disalahkan. Semua ada masanya, bertemu kemudian berpisah. Aku memejamkan mataku seraya menghirup aroma musim gugur yang menenangkan.

Yeoja itu. Ia berada tak jauh dari tempatku duduk. Aku selalu punya sinyal khusus jika yeoja satu itu berkeliaran disekitarku. Ia seperti magnet dengan kutub yang berlainan dariku hingga membuatku tertarik kedalam medan magnet miliknya dan menyadari kehadirannya. Ia sedang berjalan-jalan dengan anjing lobrador hitam kesayangannya. Aku agak geli melihatnya. Badannya yang mungil dapat dengan mudah dikendalikan arahnya oleh anjing yang berbobot besar sekalipun leher anjing tersebut telah dikalungi tali yang dipegangnya.

Aku bergegas mengambil netbook dari dalam tas yang sengaja kubawa ke taman ini sekaligus mengaitkan headset ketelingaku. Seperti biasanya aku akan berhenti memperhatikannya saat aku tertangkap basah.

Aku mulai menyalurkan ide yang sempat singgah dalam lobus otakku untuk menjadikannya rangkaian kisah untuk kelanjutan novelku. Tak berapa lama aku tersentak saat seekor anjing menyalak didepanku seraya bermanja dikakiku. Aku mengangkat kepalaku menatap ia yang tersenyum senang sekilas. Aku melotot kaget melihatnya, terkejut karena bertatapan dengan yeoja itu tanpa persiapan sebelumnya. Sekaligus juga terkejut dengan tingkah Labrador yang menggemaskan.

“Ma-af,” ujarnya terbata. Ia mungkin ketakutan kalau saja aku akan marah kepadanya. “Anjingku tiba-tiba berlari kearah sini. Dan aku- aku tidak… Maksudku aku tidak bermaksud menganggu.” Aku menatapnya dengan mata membola, akhirnya aku bisa berhadapan dengannya. Dan yang membuatku bahagia, ia akhirnya berbicara denganku meski dengan nada takut. Apa aku menakutkan?

Aku menggeleng seraya tersenyum dengan kedua ujung bibir yang hampir menyentuh telinga. Aku terlalu bahagia. Aku mengetikkan sesuatu dalam netbook-ku kemudian aku menunjukkan padanya. Mungkin ia agak kesulitan membaca sehingga ia mendekat kesisiku dan duduk tepat ditempat kosong dari kursi yang kududuki. Ia duduk tepat disampingku. Sekali lagi, ia duduk disampingku. Dalam hati aku melonjak kegirangan. Tangan mungilnya tak sengaja bersentuhan dengan tanganku saat ia mengambil netbook dari pangkuanku.

Ia membaca kalimat yang kuketik sebelumnya kemudian tersenyum cerah kearahku. Senyumnya seperti mengalirkan listrik jutaan volt kedalam tubuhku. Wajahnya sangat dekat dengan wajahku membuat jantungku berdentam-dentam keras.

Entah kenapa, wajahnya pucat pasi seketika, kemudian ia memekik.

“Jinki-ssi, kau mimisan.”

Aku kaget. Aku mimisan. Dan ia, Park Minmi, tahu namaku.

==

“Kau yakin hidungmu baik-baik saja?” tanya Minmi seraya mengeluarkan saputangan bermotif sakura dari dalam tas kecil yang dibawanya.

Aku menyambut saputangannya, mengusap darah yang keluar dari hidungku. Sejak tadi aku tidak henti-hentinya tersenyum. Ia ternyata mengenalku, aku pasti tidak salah dengar kalau ia menyebutkan namaku tadi.

“Kau yakin tidak apa-apa?” tanyanya khawatir.

Aku mengangguk. Aku baik-baik saja. Bahkan terlalu baik.

“Maafkan aku, Blueberry tidak pernah seperti ini. Biasanya ia tidak akan bersikap akrab dengan orang yang baru dikenalnya,” ujar Minmi. Blueberry? Maksudnya apa? Minmi mengusap kepala anjing tersebut. “Blueberry, cepat minta maaf,” ujarnya lagi.

“Guk..guk..” anjing tersebut menyalak. Blueberry nama yang lucu dan terlalu lucu untuk anjing labrador berwarna hitam legam. Aku mengusap kepala anjing tersebut sambil tersenyum.

“Oh, namaku Park Minmi,” katanya seraya tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya kearahku.

Aku menyambut tangannya dan kali ini aku tak akan kubiarkan satu tetes darah pun keluar dari hidungku. Oh, oke.

“Tak perlu mengenalkan diri, aku tahu nama anda Lee Jinki.” Ia menggaruk kepalanya. “Hehe, aku tahu segala hal.”

Aku tersenyum saja, meski ia hanya membual tentang tahu segala hal. Manusia memang begitu, ‘sok tahu’. Tapi aku senang bisa berbicara dengannya.

Matanya jauh memandang kedepan, mengamati beberapa burung gereja yang terbang rendah. Beberapa dari mereka ada yang terpeleset saat mendarat. Aku berdusta.

“Lee Jinki, penulis novel misteri dengan nama pena L.J Onew. Benarkan? Aku fans anda,” ujarnya kemudian menoleh kearahku. “Ternyata begini rasanya,” ia memegang dadanya sambil tersenyum dengan gigi kelincinya. “Aku sangat gugup berhadapan dengan anda,” lanjutnya lagi. Ia kembali menatap kedepan. “Membaca ceritamu sangat menegangkan. Aku seperti benar-benar berada dalam cerita yang anda buat, Jinki-ssi. Anda penulis novel misteri yang terhebat.” Ia mengacungkan kedua jempolnya padaku.

“Ah, mianhae. Sepertinya kau tidak percaya dengan kata-kataku. Tapi aku benar-benar jujur mengenai novel yang anda tulis.” Ia lagi-lagi menggaruk belakang kepalanya. Ia benar-benar pandai bicara. Entahlah, mungkin karena aku yang tak pandai bicara.

Kami berdiam cukup lama, suasana jadi canggung.

Menoleh kesamping, Minmi sedang memejamkan matanya. Mungkin menyesapi udara musim gugur yang sejuk. Rambutnya bergoyang dihembus angin yang lembut.

“Dalam kebanyakan novel yang anda buat, tokoh utamanya selalu menyukai hujan. Aku juga suka dengan hujan,” ujarnya. “Tapi aku juga suka musim gugur seperti sekarang ini.” Ia menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya masih dengan mata tertutup.

Ia kemudian membuka matanya cepat. “Ah, tidak juga. Aku suka semua musim,” ia menyengir lebar, menampilkan wajahnnya yang cerah dengan dua buah mata yang membentuk croissant.

Aku menahan napasku. Berusaha bersikap biasa meski sejujurnya jantungku bekerja sedikit keluar dari kebiasaannya.

“Apa aku terlalu cerewet? Ah, maafkan aku Jinki-ssi. Mungkin anda terganggu dengan kehadiranku, maafkan aku.”

Aku menggeleng. Tidak apa-apa.

“Maafkan aku. Karena dari tadi aku yang berbicara terus, sehingga anda tidak sempat berkata apa-apa. Maafkan aku, maafkan aku,” ujarnya berulang-ulang.

Aku menggeleng cepat. Aku lekas-lekas mengetik pada netbook-ku kemudian menyodorkan kearahnya.

‘Aku memang tidak bisa berbicara.’

Ia membacanya, kemudian ia menepuk kepalanya.

“Ah… mian Jinki-ssi, aku lupa kalau aku harus pergi kesuatu tempat.” Ia lekas berdiri kemudian membungkuk didepanku. “Annyeonghaseyo,” ujarnya seraya menarik Blueberry.

Manis tapi pura-pura.

==

Oppa, makan malam sudah siap.”

Aku menggerakan jemariku di komputer, mengetik adegan yang mungkin akan kumasukkan dalam novelku selanjutnya. Mengacuhkan panggilan Aoi.

Oppa,” geram Aoi. Rupanya ia sudah masuk kekamarku dan ada disampingku, berdiri dengan tangan yang berkacak pada kedua pinggangnya. “Hentikan mengetik lalu makan atau aku yang mematikan komputermu?”

Aku menatap kedua mata Aoi yang menyipit. Ia akan melakukannya jika ia benar-benar marah padaku. Aku men-save ketikkanku kemudian mengeluarkannya daripada harus dimatikan sembarangan oleh Aoi sebelum sempat disimpan dan aku kehilangan tulisanku.

“Matikan dulu komputernya. Oppa pasti akan makan cepat-cepat supaya bisa segera menyelesaikan tulisan Oppa kalau komputernya tidak dimatikan,” ujarnya panjang lebar.

Aku menuruti kemauannya kemudian berjalan keluar kamar setelah sebelumnya mengacak rambutnya.

Oppa,” teriaknya. Ia membenci jika rambutnya diacak.

==

Aoi membuka mulutnya. “Apa ada sesuatu yang membahagiakan terjadi akhir-akhir ini, Oppa?”

Aku menautkan kedua alisku.

“Yah… Akhir-akhir ini Oppa terlihat lebih bahagia.”

Aku selalu tersenyum,” ujarku dengan bahasa isyarat sambil menyunggingkan senyum.

Aoi menggeleng. “Meski Oppa selalu tersenyum, aku tahu kalau Oppa tidak benar-benar tersenyum. Kau terlalu nyata untuk orang yang pura-pura tersenyum. Lagipula Oppa tidak bisa berbohong dariku.” Ia menyumpit nasi memasukkan kedalam mulutnya. “Apa ada hal baru yang menggembirakan?”

Benarkah?

Aku memutar bola mataku. Tak ada hal yang baru kecuali tetangga baru. Entahlah …

“Aku suka Oppa yang sekarang ini.”

Jika itu hal baik menurutnya, aku mengangguk saja.

“Kapan Oppa akan pulang kerumah?” Sudah sejak lama Aoi tidak mengungkit masalah ini, membicarakan tema yang sangat tidak ingin kuungkit. Apa dia pikir karena aku sedang bahagia ia bisa kembali mengungkit hal ini? Tak akan ada yang berubah. Tenggorokanku terasa mengering. Aku mengambil gelas kemudian menenggak habis air putih didalamnya.

Memangnya kita tidak sedang dirumah?

Aoi meletakkan sendok dan garfunya dimeja makan. “Kau mengerti maksudku kan, Oppa. Aboeji merindukanmu. Okasan juga ingin Oppa pulang.”

Bohong.

Aku menarik kursiku kebelakang dan bangkit dari kursi. “Aku sudah selesai makan.

Sebelum aku benar-benar meninggalkan ruang makan, Aoi berkata dengan lirih. “Mianhae Oppa. Tapi aku benar-benar tidak berbohong.”

Aku menutup pintu kamarku dengan kasar, menghempaskan tubuh diatas ranjang lalu mengacak rambutku gusar. Memori di otakku kembali berputar ke masa limabelas tahun yang lalu.

Kaki kecilku melangkah memasuki gerbang tinggi yang ada dihadapanku. Kedua tanganku berontak meminta dilepaskan pada dua orang berbadan besar yang memegangiku dengan kasar.

Aku meraung menangis.

Didepan pintu rumah berdiri seorang lelaki yang menyambutku. Ia tersenyum padaku. “Namamu Jinki?”

Aku mengangguk.

“Ku dengar dari eomma-mu kau mencari ayahmu, bukan? Aku adalah ayahmu sekarang. Panggil aku Aboeji,” ujar lelaki tersebut. Aku memang bingung karena teman-temanku selalu bertanya dimana ayahku. Aku bingung tapi juga bahagia jadi aku mengangguk.

“Kau mandi dulu, setelah itu pergi keruang makan untuk makan malam. Oh ya, sekarang namamu bukan Kim Jinki, tapi Lee Jinki.”

Aku hanya mengangguk dan tak mengerti apa-apa. Tak mengerti mengapa namaku harus berubah. Aku hanya anak kecil berusia sepuluh tahun dan aku tidak pernah mengerti permasalahan orang dewasa.

Aboeji harus pergi malam ini. Kalian makan malam saja tanpa Aboeji,” ucap Aboeji sambil berjalan tergesa membawa beberapa map ditangannya.

Aku mengambil lauk yang disajikan diatas meja, namun ditahan oleh wanita berwajah jepang yang tadi Aboeji kenalkan padaku sebagai eomma baruku.

Aku mengambil lauk lain yang tersedia, namun lagi-lagi tanganku ditahan.

“Tidakkah kau malu karena ibumu itu hampir membuatku batal menikah dengan Jinyoung? Bahkan sekarang anaknya tanpa tahu malu makan malam dirumah orang yang hampir direbut suaminya.”

Aku menatapnya takut-takut, tak mengerti dengan ucapannya.

“Kau itu anak haram. Kau lahir bahkan sebelum Jinyoung menikah dengan ibumu. Bahkan saat itu Jinyoung sedang bertunangan denganku. Meski kami dijodohkan, tapi aku benar-benar mencintai suamiku. Dan pernikahan kami hampir batal gara-gara kau hadir dirahim ibumu itu. Apa kau tahu bagaimana sakitnya hatiku?

“Bagaimana bisa aku menerima anak dari orang yang hampir merebut Jinyoung dariku? Bagaimana bisa aku memperlakukan anak dari Hyerim dengan baik? Meski luka itu sudah kupendam dalam-dalam, tapi luka itu kembali terbuka jika aku harus bertemu dengan anak haramnya.”

Aku bangkit dari meja makan dan masuk kedalam kamarku kemudian terduduk memegang kedua lututku. Aku baru saja ditinggalkan eomma untuk selamanya dan baru saja mengetahui kenyataan pahit tentang asal usulku. Aku menangis tersedu menjatuhkan kepalaku diatas lutut. Air mataku jatuh. Diluar hujan turut jatuh, ikut menemaniku yang menangis dalam kesedihan. Hujan seolah mengerti dengan kisahku. Kisah hidup yang benar-benar tidak ingin kuterima.

Eomma, aku merindukan eomma. Eomma berjanji akan bersamaku selamanya.

Aku menangis. Air mataku keluar tanpa bisa ditahan. Air mataku keluar tanpa bisa dihentikan. Luka lama yang sudah mati-matian kupendam kini hadir kembali dalam ingatanku. Semua ini terlalu melelahkan hingga membuatku tertidur. Sebelum aku benar-benar jatuh ke alam mimpi, aku tahu Aoi masuk ke kamarku. Mengusap jejak air mata dipipiku lalu menciumi kedua mataku yang tertutup. Ia menarik selimutku hingga sebatas dada.

“Maafkan aku Oppa. Mimpi yang indah.”

Maafkan aku juga Aoi. Aku terlalu pengecut.

==

Aku kembali lagi ketaman ini. Duduk ditempat yang sama, dikursi dekat pohon maple tempat Minmi pertama kali menyapaku. Menunggui Minmi yang mungkin saja akan berjalan-jalan dengan anjing sangar namun memiliki nama yang lucu miliknya. Hingga jingga terlukis dilangit senja, aku akan pulang.

Berhari-hari tetap sama. Aku menunggui Minmi ditempat yang sama. Hingga batas waktu yang sama, ia tak pernah datang lagi. Aku mengerti sekarang. Aku ingat, ia meninggalkanku setelah tahu keadaanku. Ia seperti yang lainnya, ia meninggalkanku. Tak mau berteman denganku. Aku hanya membisu dan aku memang bisu.

Aku tidak akan memikirkan Minmi. Atau lebih tepatnya berpura-pura tidak memikirkannya dan menyingkirkan Minmi yang berkeliaran diotakku. Aku hanya ingin memendam ingatan tentangnya ditumpukan ingatan menyakitkan yang ada diotakku. Menyatukannya bersama ingatan-ingatan buruk lainnya yang kupendam dalam-dalam. Sama seperti yang lainnya, mereka meninggalkanku.

Pelangi  mungkin takkan hadir

Atau hadir lalu sebentar

==

Oppa, apa hari ini kau sibuk? Mau jalan-jalan denganku?” Aoi masuk kekamarku, menjatuhkan tubuhnya diranjang.

Aku masih didepan komputerku. Mungkin ada beberapa bagian dari nashkahku yang harus kuperbaiki, tapi hanya tinggal beberapa saja. Kupikir tidak akan memakan waktu lama dan kuputuskan untuk menggeleng. Aku tidak terlalu sibuk.

Aoi menyerahkan penutup mata padaku. “Hari ini aku ulang tahun,” aku terkejut. Bagaimana bisa aku melupakan ulang tahun adikku sendiri. “Tak apa, aku bisa memaafkan Oppa karena melupakan ulang tahunku asalkan Oppa mengabulkan permintaanku.”

Aku mengangguk. Apapun bisa kulakukan untuk Aoi. Aoi mengajukan syarat padaku.

“Pakai itu selama perjalanan. Oppa hanya boleh melepaskan ketika kita sudah sampai ditempat tujuan.”

Aku menuruti kemauannya. Selama perjalanan aku menutup mataku dengan penutup yang Aoi berikan padaku. Aku tidak memiliki ide tempat seperti apa yang ingin Aoi tunjukkan padaku. Aoi menghentikan mobilnya kemudian membawaku keluar dari mobil. Ia memegangi tanganku untuk berjalan selagi aku masih menutup mataku.

Aoi membuka penutup mataku. Aku terkejut ketika tahu dimana aku berada. Aku ingin pergi dari rumah ini tapi Aoi menahan lenganku. “Kumohon, Oppa. Ini ulang tahunku.”

Aboeji menyambutku, memelukku dengan erat. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku hanya berdiri tanpa berniat membalas pelukan Aboeji. “Aboeji merindukanmu, Jinki-ya.” Aboeji mengelus pundakku dengan hangat.

Okasan datang dari arah dapur.

Aku ingin berlari dan melepaskan pelukan yang sekaligus juga sangat kurindukan. Aku sangat tidak ingin melepas pelukan hangat dari Aboeji, tapi aku juga tidak ingin bertemu dengan Okasan. Aku takut, takut menyakiti hatinya kembali. Aku berlari keluar rumah meski masih kudengar mereka memanggil-manggil namaku untuk kembali.

Aku terduduk ditepi jalanan yang sepi. Aku kembali menangis. Aku bukan tidak ingin bertemu dengan Okasan karena membencinya. Aku hanya takut untuk bertemu dengannya. Takut membuat ia kembali terluka akan kehadiranku. Kehadiran seorang anak dari suaminya dengan eomma-ku. Aku takut membuat ia kembali terluka. Aku takut karena aku terlalu pengecut.

Langit mencurahkan butiran es ke bumi. Seperti menjatuhiku dengan segala macam hukuman menyedihkan. Bisa jadi ia turut merayakan kesedihanku.

“Ah, ternyata benar. Anyeonghaseyo Jinki-ssi,” Aku mendongakkan kepalaku menatap Minmi yang tiba-tiba berada didepanku. Ia memegang payung kuning.

“Apa yang sedang anda lakukan Jinki-ssi? Mengapa anda duduk disini? Ah… kalau aku sedang berkunjung kerumah bibiku yang terletak disekitar sini. Kebetulan aku ingin pergi ke mini market didepan. Kalau anda, apa yang sedang anda lakukan?”

Aku memang tidak menyahut karena aku memang tidak bisa menyahut. Apa ia tidak berniat meninggalkanku setelah tahu keadaanku yang bisu? Atau mungkin sebentar lagi ia akan meninggalkanku, sama seperti yang lainnya, orang-orang yang kusayangi.

“Apa anda sedang mencari inspirasi?” Minmi duduk disampingku sekaligus turut memayungi tubuhku. “Apa semua penulis melakukan hal yang aneh-aneh untuk mendapatkan inspirasinya?” gumamnya. “Aku kenal dengan seorang penulis yang memiliki kelakuan aneh saat mencari inspirasi. Dia ayahku sendiri. Haha, kau jangan bilang-bilang kalau aku menceritakan keanehan ayahku. Kau tahu penulis bernama pena Mahjong? Itu ayahku. Dia juga aneh ketika mencari ide untuk ceritanya, sama seperti mu.”

Aku memandanginya. Apa ia benar-benar tidak akan meninggalkanku, bahkan ketika ia tahu aku bisu.

Ia menepuk mulutnya sekali. “Mian, sepertinya kata-kataku membuat anda tersinggung. Aku tidak bermaksud menyebut mu sebagi orang aneh.” Ia lagi-lagi menepuk mulutnya.

Mianhae, mianhae, mianh…” Ia berucap dengan frekuensi yang cepat.

Kata-katanya terhenti karena terkejut bahkan ia melepaskan payung yang dipegangnya saat aku merengkuh tubuh mungilnya dalam dekapanku. Aku memeluknya. Aku tak tahu apa yang ada dipikiranku. Aku hanya ingin memeluknya seraya berharap seluruh kesakitan ini turut meluruh bersamaan dengan terlepasnya pelukanku padanya nanti. Dalam beberapa lama, Minmi hanya mematung. Aku semakin menenggelamkan wajahku dipundaknya.

Tangan Minmi mulai beralih kepunggungku, mengusap dengan perlahan. “Aku tidak mengerti apa yang membuat anda begini. Tapi semuanya akan baik-baik saja.” Suara Minmi terdengar sayup-sayup diantara hujaman salju yang semakin lebat. Mendengar suaranya, aku yang sedang tersesat di padang pasir serasa dijatuhi tetesan embun pagi dari pucuk daun. Entah mengapa suaranya terdengar seperti angin sepoi yang membelai dikala kering.

“Semuanya akan baik-baik saja,” ulangnya masih dengan mengusap punggungku.

Ya, semuanya akan baik-baik saja. Ada banyak hal buruk yang terjadi. Banyak hal yang belum terselesaikan. Banyak misteri yang belum terpecahkan. Ada kalanya memang harus tidak terpecahkan dan tetap menjadi misteri. Tidak apa-apa, karena beginilah hidup. Semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan baik-baik saja.

Kalaupun hujan tidak juga berhenti

Atau setelah hujan tidak juga hadir pelangi

Tak perlu takut

Akan selalu ada cahaya dari matahari

=end=

Advertisements

Tips Berbicara Didepan Umum

Sekitar 2 minggu lalu, seperti yang aku tulis dalam Balasan Surat untuk Aku (dimasa depan), aku mengikuti workshop public speaking. Masih masalah yang sama yang aku hadapi, yaitu ‘komunikasi’. Aku bergolongan darah B. Katanya, golongan darah B tipe yang akan mengatakan apa yang ada dipikirannya, dan hal itu tidak bisa dianggap salah ngomong karena memang itulah yang ada dipikirannya. Dan, yes, aku benar-benar seperti itu. Aku berpikir untuk belajar bagaimana memperbaiki komunikasi yang kulakukan agar orang lain tidak perlu tersakiti karena kata-kata ku yang blak-blakan dan terkadang sangat menyinggung perasaan orang lain. Haha, agak klise sih alasan yang ini.

Sejujurnya, karena aku terkadang*coret* sangat sering merasa gugup ketika harus berbicara didepan orang banyak, seperti saat presentasi dan lain-lain.

Nah, hari ini aku mau membahas hal apa saja yang aku dapatkan ketika workshop tersebut. Hal ini aku tuliskan hanya sejauh yang aku ingat saja, hihihi.

Ini dia beberapa tips yang bisa aku ingat dari workshop hari itu.

  1. Dalam berkomunikasi, jangan pernah menyalahkan orang lain, membuat alasan, ataupun melakukan pembenaran.
  2. Musuh utama ketika kita menuntut ilmu adalah merasa sudah tahu apalagi sok tahu. Kalau begitu, apapun pengetahuan yang diberikan orang lain pada kita kita gak akan bisa menerima ilmu yang sesungguhnya. Begitu juga dalam berkomunikasi, ketika ada yang mengatakan tentang hal yang sudah kamu ketahui jangan merasa sok tahu, tapi katakana “menarik”.
  3. Ketika kamu berbicara didepan umum, salah satu hal yang penting adalah tatap audience. Terkadang, untuk beberapa orang, menatap mata audience itu seperti hal yang menakutkan. Baru berdiri didepan saja sudah keringatan setengah mati, apalagi harus menatap mata orang-orang. Dan banyak orang mengatasinya dengan menatap tembok dibelakang, tapi yang lebih parahnya lagi adalah menunduk. Ketika kamu pernah merasakan hal yang sama, merasa gak berani menatap mata orang-orang tapi kamu ingin berinteraksi dengan audience kamu, kamu ingin terlihat percaya diri dengan menatap masing-masing audience, maka tatap bagian tengah antara kedua alis audience. Meskipun kamu gak menatap mata audience, kamu akan terlihat seperti menatap mata orang tersebut.
  4. Gerakan tangan salah satu hal yang penting juga ketika berbicara didepan umum. Gerakan yang tidak perlu akan menunjukkan bahwa sebenarnya mungkin saja kamu gugup. Gerakan tangan yang dianggap paling wajar ketika berbicara didepan publik adalah dengan menggenggam kedua telapak tangan kamu. Atau minimal masukkan kedalam kantong celana. Sebaiknya tidak melakukan gerakan tangan yang tidak perlu.
  5. Kaki juga diperhatikan lho. Beberapa orang ada yang berjalan maju mundur ditempat, ada yang tubuhnya bergoyang kekiri kekanan. Katanya, lebih baik berjalan kekiri kekanan daripada berjalan ditempat maju mundur. Kalau aku pikir bener juga ya, jadinya terlihat seperti menguasai panggung. Haha. Tapi perlu diingat, kalau kamu berbicara didepan ketika presentasi, jangan menutup slide presentasi yang ada didepan. Apalagi kamu membaca slide aja dan membelakangi audience.
  6. Jangan ge-er. Ketika kamu gak berani berbicara didepan umum karena beralasan bahwa takut orang-orang akan memperhatikan kamu, takut orang-orang akan mengkritik kamu, sejujurnya itu karena kamu terlalu ge-er kalau orang-orang akan memperhatikan kamu. Padahal bisa jadi orang sama sekali gak peduli sama kamu. Haha. Jadi ketika kamu merasa gak berani dan merasa malu berbicara didepan public, sebenarnya itu hanya karena kamu kege-eran aja. Anggaplah seperti itu. Haha
  7. Ketika kita melakukan kesalahan atau kecerobohan didepan audience dan hal itu memalukan sampai-sampai orang-orang menertawakan kamu, maka kamu juga harus ikut tertawa. Turut menawakan diri sendiri biar kamu gak canggung dan mati gaya didepan audience.
  8. Sebelum maju kedepan, salah satu tips biar gak gugup adalah dengan banyak bergerak. Aku penggemar Amber f(x). Yeah 😀 dan kebiasaan Amber sebelum konser biasanya adalah dengan bergerak dahulu. Dengan bergerak aktif bisa membuat kamu menghilangkan kegugupan. Aku jga seperti itu ketika harus presentasi. Kalau kamu gugup terus berdiam diri, maka perasaan gugup kamu semakin terasa. Tapi kalau kamu bawa bergerak, jadinya kalori lebih banyak terbuang buat bergerak daripada terbuang untuk gugup. Haha teori masuk akal, penjelasan gaje dari aku, tapi beneran efektif.
  9. Cara untuk mendapatkan percaya diri sebelum berbicara dihadapan orang banyak, kamu bisa pikirkan hal-hal yang membanggakan dari diri kamu, contohnya seperti prestasi kamu ketika menang lomba makan kerupuk se-RT juara 3 dengan peserta sebanyak 3 orang, atau apapun hal membanggakan yang bisa kamu bayangkan yang pernah kamu alami. Coba kamu ingat bagaimana perasaan kamu saat itu, bayangkan bagaimana rasa bangganya. Lalu pertahankan bayangan tersebut dalam kepala kamu, pertahankan perasaan bangga tersebut didiri kamu. Terus tingkatkan perasaan bangga kamu itu sampai kamu merasa benar-benar percaya diri dan siap untuk berbicara didepan audience.
  10. Dan yang paling penting, jangan menyerah sebelum mencoba. Karena kegagalan yang sesungguhnya adalah tidak pernah mencoba sama sekali.

How to Win Friends and Influence People in The Digital Age-nya Dale Carnegie

Beberapa waktu yang lalu aku menyelesaikan membaca buku “How to Win Friends and Influence People in The Digital Age”-nya Dale Carnegie. Buku yang aku baca adalah cetakan yang keenam, November 2013. Dan memang sejujurnya sudah lama gak aku baca. Dan akhirnya baru beberapa hari yang lalu aku membaca dan menyelesaikannya.

Waktu aku membeli buku ini, aku berpikir tentang bagaimana aku harus berkomunikasi yang baik dengan orang lain. Orang introvert (baca : aku) sedikit lebih susah untuk berkomunikasi menyampaikan pemikiranku kepada orang lain. Jadi aku pikir, aku perlu buku-buku tentang komunikasi. Yeah 😀

Seperti judulnya, buku ini berisi tentang bagaimana memenangkan pertemanan dan mempengaruhi orang-orang. Sejujurnya, aku kurang suka dengan konteks kalimatnya yang seolah-olah kita berteman (komunikasi) dengan orang lain hanya untuk mempengaruhi orang agar bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Sebenarnya, aku aja yang aneh sampai punya pemikiran kayak gini. Haha Maaf. Entahlah, aku merasa hal itu seperti memanfaatkan orang lain untuk keuntungan pribadi. Tapi kalau kamu masuk lebih dalam lagi membaca isi bukunya, sebenarnya isi bukunya lebih kepada pengembangan diri. Dan ada kalimat yang aku suka yaitu ‘aksi yang timbul dari minat yang tulus kepada orang lain.’

Jadi isi buku ini bukan tentang bagaimana kamu memanfaatkan orang lain untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan. Kalau menurut aku, seperti kamu menang maka akupun menang. Ya, aksi yang timbul dari minat yang tulus kepada orang lain. Aku suka ada kata tulus disana. Haha

Isi buku sendiri ada empat bagian dengan beberapa sub judul didalamnya.

Bagian Pertama, Yang Perlu Dilakukan dalam Keterlibatan

  1. Kubur Bumerang Anda
  2. Tegaskan Hal-Hal yang Baik
  3. Sentuh Keinginan Inti

Bagian Kedua, Enam Cara untuk Memberikan Kesan yang Tahan Lama

  1. Menaruh Minat terhadap Minat Orang Lain
  2. Tersenyumlah
  3. Berkuasa dengan Nama
  4. Menyimak Lebih Lama
  5. Bahas Apa yang Penting Bagi Mereka
  6. Buat Orang Lain Merasa Lebih Baik

Bagian Ketiga, Cara Mendapatkan dan Menjaga Kepercayaan Orang Lain

  1. Hindari Argumen
  2. Jangan Pernah Mengatakan “Kau Salah”
  3. Akui Kesalahan dengan Cepat dan Sungguh-Sungguh
  4. Awali dengan Sikap Ramah
  5. Akses Afinitas
  6. Biarkan Orang Lain Mendapatkan Pengakuan
  7. Terlibat Secara Empatik
  8. Gugah Sifat Mulia
  9. Berbagi Perjalanan
  10. Berikan Tantangan

Bagian Empat, Cara Memimpin Perubahan Tanpa Penolakan atau Kebencian

  1. Awali dengan Positif
  2. Akui Kekurangan Anda
  3. Tunjukkan Kesalahan Tanpa Menarik Perhatian
  4. Lebih Baik Mengajukan Pertanyaan daripada Memberi Perintah Secara Langsung
  5. Ringankan Kesalahan
  6. Befokus pada Kemajuan
  7. Sematkan Reputasi yang Baik kepada Orang Lain
  8. Terus Terhubung pada Pijakan yang Sama

Nah kan, dari daftar isi diatas, sudah bisa dibayangkan bagaimana isinya. Isinya lebih kepada pengembangan diri dan tentu aja saran dari Dale Carnegie ini menurut aku perlu waktu yang lama untuk bisa melaksanakannya secara maksimal, karena sekali lagi, lakukan dengan tulus. Bukan hanya karena kamu mau mendapatkan keuntungan dari orang lain, tapi juga karena orang lain merasa beruntung bersama kita. Haha

Lalu ada juga beberapa nasihat didalam buku yang menurut aku penting, seperti :

  • Jangan mengkritik, mengutuk, atau mengeluh.
  • Ubah penggunaan media menjadi semangat untuk menyemangati dan menasihati.
  • Lawan keinginan untuk menjelek-jelekkan
  • Tidak perlu membiarkan dogma negative orang lain memenuhi benak kita
  • Kepandaian membujuk lewat kata-kata tidak diperlukan untuk mendapatkan teman dan memengaruhi orang lain. Yang dibutuhkan adalah kefasihan lidah yang bersahaja dari kemurahan hati dan sikap rendah diri.
  • Segala kemajuan yang hebat dan pemecahan masalah dengan pihak lain terjadi saat setidaknya salah satu pihak bersedia untuk mengakui kebaikan yang ada.
  • Jangan berdebat.
  • Jika kau tidak bisa menjual secara eceran, kau tidak akan bisa menjual secara grosir.
  • Anda harus benar-benar tertarik dengan orang lain sebelum anda megharapkan orang lin tertarik dengan anda.
  • Entah online atau offline, jika anda tersenyum, dunia tersenyum dengan anda.
  • Banyak studi menunjukkan bahwa tersenyum secara fisik, bahkan saat sedang menelepon, sebenarnya membuat nada suara anda saat mengucapkan kata-kata terdengar lebih menyenangkan.
  • Hasil utama di dalam bisnis dengan mengingat nama orang adalah: mereka mengingat nama anda.
  • Nama adalah bunyi paling manis dan penting didalam bahasa apapun.
  • Menyimak adalah kekuatan untuk memberikan apa yang sangat diinginkan orang lain-untuk didengar dan dimengerti.
  • Intinya, selalu ada risiko dalam sebuah hubungan, dan jika kita ingin memperngaruhi orang lain, kita harus merasa nyaman dalam menghadapi risiko tersebut.
  • Dan masih banyak lagi …

Ada juga yang menarik, ketika penulis berkebangsaan Inggris, G. K. Chesterton, dimintai Times untuk menulis essai dengan subjek ‘Apa yang Salah dengan Dunia’ Tahu gak apa yang dia tulis?

Yang terhormat,

                Saya.

Dengan hormat,

G. K. Chesterton.

Coba bacalah sekali lagi dalam hati kita, apa yang salah dengan dunia? Saya.

untitled

Sedikit lagi, tinggal sedikit lagi. Kakinya berjinjit, tangan nya menjangkau keatas berusaha menjangkau buku tebal yang terletak di rak paling atas. Eunja menarik kakinya turun, menghembuskan napasnya pelan kemudian kembali mencoba meraih buku yang sedari tadi ingin ia ambil.

Cho Kyuhyun yang duduk tak jauh dari Eunja sedari tadi memperhatikan diam-diam. Tangannya bersedekap didepan dada, kaki kanannya disilangkan diatas kaki kirinya. Senyum kecil mengembang dikedua sudut bibirnya. Melihat tingkah Eunja yang menurutnya menggemaskan. Atensinya terus mengamati tingkah Eunja yang masih kesulitan meraih salah satu buku yang terletak di rak paling atas. Merasa tidak tega meskipun masih belum merasa cukup melihat sikap Eunja yang sungguh menggemaskan baginya, ia berdiri, melangkahkan kaki panjangnya kearah Eunja.

Ia berdiri tepat dibelakang Eunja, menyentuhkan dadanya pada helai hitam lembut milik Eunja. Ah, Kyuhyun sangat suka dengan rambut lembut milik Eunja. Aroma shampoo yang menguar, warna hitam yang berkilau, helai yang jatuh menyentuh bahu Eunja, lalu bahu sempit Eunja, mata Eunja yang bulat dan menyipit berbentuk croissant ketika tersenyum, hidung dan bibir mungilnya. Ah, memangnya apa yang Kyuhyun benci dari Eunja? Tidak ada, tentu saja jawabannya itu.

Eunja merasakan kepalanya menyentuh sesuatu yang menyenangkan. Ada detak yang terdengar seperti musik merdu ditelinganya. Harum yang menenangkannya menyapa penciumannya. Ia sangat mengenali aroma ini. Eunja seperti terhanyut dalam lamunannya.

“Buku yang mana?” Suara yang selalu muncul dalam lamunannya. Eunja tersadar sejurus kemudian menelan ludahnya. Lagi-lagi ia terlena oleh perasaan aneh yang menyebalkan. Ia menunjuk salah satu buku diantara buku-buku yang tersusun rapi. Kyuhyun dapat dengan mudah mengambil buku tersebut. Ah, tentu saja. Eunja mendesah kecewa, padahal ia masih ingin berada pada momen ini lebih lama lagi.

Kyuhyun dapat mengambilnya dengan mudah kemudian menyerahkan pada Eunja. Ingin rasanya Kyuhyun bertahan dengan posisi sebelumnya lebih lama. Tapi ia takut akan pemikiran Eunja yang mungkin akan berpikir bahwa ia aneh. Tangan Kyuhyun sangat mudah meraih buku tersebut karena tubuhnya yang tinggi. Untuk kali ini rasanya ia membenci tubuh tingginya meskipun sehari-hari ia berprofesi sampingan sebagai model. Tapi ketika dipikir lebih lanjut, bertubuh pendek bahkan lebih parah, bisa-bisa ia tidak bisa membantu Eunja untuk mengambil buku tersebut. Kyuhyun menggeleng, menghentikan pemikiran anehnya.

Eunja yang berdiri dihadapannya menatap Kyuhyun dengan senyum sangat lebar yang ia sembunyikan di dalam hatinya. Ia benar-benar takut akan dianggap Kyuhyun aneh karena tanpa sebab tersenyum kearah Kyuhyun. Ia tersadar dari aktivitasnya memandangi Kyuhyun ketika Kyuhyun menggelengkan kepalanya. Ia tersentak kemudian berucap, “Ah, terimakasih.” Eunja lantas melangkahkan kakinya menuju kasir. Dalam hati ia bertepuk tangan bergembira. Kyuhyun tersenyum padanya, ia membantin riang.

Kyuhyun mengangguk lalu tersenyum. Meskipun hanya berinteraksi singkat seperti tadi, ia benar-benar bahagia. Rasanya seperti menjadi dandelion yang ditiup angin sepoi, terbang melayang tinggi. Ah, Eunja benar-benar, membuat Kyuhyun berubah menjadi melankolis saja. Sejurus kemudian, ia seperti mendengar suara kantong kertas yang tiba-tiba diletuskan setelah diisi angin, Kyuhyun terjatuh dari terbang melayang tingginya. Seorang namja menjemput Eunja dan bersikap sok mesra terhadap Eunja. Sebelumnya, Eunja yang sudah menjadi pelanggan tetap ditoko buku ini selalu pergi sendirian. Siapa lelaki itu? Kyuhyun mendengus kesal, lelaki itu benar-benar mengajak Kyuhyun berperang. Cih, Kyuhyun saja tidak pernah mengusap kepala Eunja seperti itu. Meski tanpa ia sadari kesalahan terletak pada dirinya sendiri yang terlalu pengecut untuk mengambil tindakan cepat. Ia harus bertindak cepat untuk selanjutnya.

Dari tempat Eunja, gadis itu meraih tangan Siwon yang mengacak rambutnya. “Oppa,” pekiknya. “Kau menyebalkan,” ujarnya seraya membenahi poninya.

“Ayo pulang,” ujar Siwon seraya menyeret pinggang Eunja.

Eunja mencibir, “Sudah kubilang tidak perlu dijemput. Kau terlalu berlebihan oppa.”

Siwon melempar senyum pada Eunja. Eunja tidak bisa bertahan lama berpura-pura jengkel menghadapi sikap Siwon yang posesif. Ia memalingkan wajahnya kesamping, bibirnya tidak bisa menahan senyumannya. Sudut matanya tanpa sengaja menangkap Kyuhyun dibalik dinding kaca toko buku. Ia melemparkan senyum pada Kyuhyun namun Kyuhyun tidak melihatnya. Ia mendesah sedikit kecewa.

Sedangkan Kyuhyun, ia mengurungkan semangat berperangnya pada namja yang berdiri disamping Eunja. Ia melihat bagaimana sikap posesif lelaki itu pada Eunja, ia memeluk Eunja begitu mesra. Kyuhyun membatin, sudah memiliki kekasih rupanya. Continue reading

~Antecedent~ / revolution

[wallcoo.com]_echi_echi_06

Suatu hari, kala matahari sudah tersepak akan senja lalu bintang-bintang menabur cahayanya, menggantikan terangnya matahari. Bintang tidak seberapa terangnya, kamu datang menghampiriku. Aku yang terjatuh dengan lutut berdarah hanya memandang wajahmu. Kamu muncul diantara sinar bulan yang temaram. Siluet wajahmu berkata bahwa kamu menyimpan perasaan tidak lega. Kamu mendekat lalu berjongkok didepanku. Aku bisa melihat wajah kamu lebih dekat sekarang. Continue reading

[FF] Hari Baik

Minmi hanya ingin tidur. Semua yang dia inginkan hanyalah tidur. Mendekati hari pernikahan, ia semakin banyak menghabiskan waktu dengan tidur. Minmi berpikir bahwa menikah adalah hal yang indah. Ia mempercayai kisah seperti negeri dongeng, happily ever after. Dapat hidup bersama dengan seorang yang begitu mencintai dan dicintainya. Ia pikir selama kisahnya belum berakhir dengan bahagia, maka hal itu bukanlah sebuah akhir.

Ditambah lagi jika ia bisa bersama dengan cinta pertamanya.

Continue reading